Siaga diabetes pada sang buah hati

Siaga diabetes pada sang buah hati

Oleh dr. Christian Tricaesario

Tahukah sobat, menurut Federasi Diabetes Internasional, ada 8 ribu anak di Indonesia terdiagnosis diabetes melitus (DM). Menurut IDAI, munculnya DM pada buah hati biasanya di sekitar usia 5-6 tahun dan 10-14 tahun. Nah, sebelum lebih lanjut, sobat perlu kenal dulu dengan istilah jenis diabetes berikut:

  • Diabetes melitus tipe 1 (DMT1): disebabkan oleh kekurangan hormon insulin yang biasanya disebabkan proses autoimun sehingga sistem kekebalan tubuh menyerang pankreas (organ penghasil insulin).
  • Diabetes melitus tipe 2 (DMT2): disebabkan ketidakmampuan tubuh memberikan respon terhadap kerja hormon insulin (yang dikenal dengan resistensi insulin) dan akhirnya juga terjadi penurunan produksi insulin.

Faktor risiko

Kira-kira apa saja nih, faktor-faktor yang bisa meningkatkan risiko DM pada sang buah hati? Berikut beberapa yang sudah diketahui:

  1. Keadaan di bawah ini berhubungan dengan DMT1:
    • Riwayat orang tua atau saudara kandung dengan DMT1, apalagi bila kedua orang tua atau saudara kembar identik juga mengidap DMT1.
    • Infeksi virus pada buah hati atau saat mengandung sang buah hati
    • Konsumsi susu sapi terlalu dini
  2. Keadaan di bawah ini meningkatkan risiko DMT2 pada buah hati:
    • Obesitas saat masa kanak-kanak
    • Riwayat keluarga diabetes
    • Jenis kelamin perempuan
    • Diabetes dan obesitas pada saat bunda mengandung sang buah hati

Gejala dan tanda

Setelah mengetahui faktor-faktor yang meningkatkan risiko bagi sang buah hati, apa saja tanda yang bisa sobat jadikan panduan untuk mencurigai DM?

Gejala klasik/khas DM biasanya disingkat 3P yaitu: 

  • polifagia (sering lapar meskipun sudah makan)
  • polidipsi (sering haus)
  • poliuria (sering buang air kecil atau mengompol)
  • dan biasanya disertai ‘P’ keempat yaitu penurunan berat badan tanpa diketahui sebabnya.

Namun, 4P ini biasanya terjadi kalau gula darahnya sudah tinggi, sehingga sulit mengenali DM pada tahap awal dan seringnya baru ketahuan pada saat keadaan akut yaitu krisis hiperglikemia. Krisis hiperglikemiaadalah kondisi gawat darurat karena gula darah yang terlalu tinggi. Gejalanya meliputi:

  • mual, muntah, nyeri perut
  • penurunan kesadaran (mengantuk, sulit dibangunkan, sampai tidak sadarkan diri dan koma)
  • nafas cepat dalam dan berbau aseton (fruity odor)
  • denyut nadi cepat lemah disertai tangan dan kaki dingin.

Segera dibawa ke unit gawat darurat ya sobat bila sang buah hati mengalami gejala krisis hiperglikemia, karena kondisi tersebutmengancam nyawa.

Berikut beberapa gejala atau tanda lain yang mungkin ditemukan:

  • Gangguan penglihatan
  • Jamur di sekitar alat kelamin
  • Sering merasa lelah
  • Pada DMT2 bisa ditemukan warna kehitaman pada kulit di area lipatan seperti di leher, lengan, dan bagian lain.
  • Meski tidak selalu, buah hati dengan DMT1 biasanya kurus, sedangkan DMT2 biasanya gemuk.
  • DMT2 biasanya terjadi setelah pubertas pada buah hati yang gemuk, berkaitan dengan perubahan hormon dan resistensi insulin.

Karena seringkali gejalanya tidak khas atau tidak muncul gejala 4P, maka untuk mendiagnosis DM pada buah hati, sobat perlu pemeriksaan lebih lanjut di fasilitas kesehatan. Diagnosis DM tegak bila didapatkan hasil pemeriksaan berikut:

  • Keluhan klasik/krisis hiperglikemia + gula darah sewaktu > 200 mg/dL
  • Gula darah puasa > 126 mg/dL
  • Gula 2 jam setelah tes toleransi glukosa oral > 200 mg/dL
  • HbA1C > 6.5% pada laboratorium yang terstandardisasi NGSP

Untuk membedakan DMT1 dengan DMT2 pada buah hati yang gemuk akan sulit, sehingga mungkin perlu dilakukan pemeriksaan kadar C-Peptide dan keberadaan antibodi yang menyerang pankreas seperti antibodi GAD, insulin autoantibodies (IAA), tyrosine phosphatase-like insulinoma antigen 2 (IA2), dan beta-cell specific zinc transporter 8 autoantibodies (ZnT8).

Pengobatan

Pilar utama pengobatan DM adalah edukasi, pengaturan makan, olahraga, obat, dan monitoring. Perbedaan antara DMT1 dan DMT2 terletak pada obat, yaitu DMT1 obatnya pasti menggunakan suntikan insulin karena buah hati kita tidak dapat memproduksi insulin di dalam tubuh. Sedangkan DMT2 belum tentu memerlukan insulin, dan bisa menggunakan obat minum.

Komplikasi

Buah hati dengan diabetes ini juga berisiko mengalami komplikasi seperti layaknya orang dewasa, mulai dari hipertensi, kolesterol tinggi, bahkan sampai perubahan struktur jantung, penurunan fungsi jantung, kelainan mata dan juga ginjal. Secara garis besar, komplikasi jangka panjang DM dibagi menjadi dua kelompok yaitu:

  1. Komplikasi pembuluh darah besar meliputi penyakit jantung koroner, gagal jantung, hipertensi, kolesterol, sumbatan pembuluh darah (kepala, kaki, dan lainnya).
  2. Komplikasi pembuluh darah kecil meliputi kelainan mata (retinopati), saraf (neuropati), dan ginjal (nefropati).

Maka dari itu, penting dilakukan monitoring rutin untuk mencegah terjadinya komplikasi jangka panjang pada buah hati ya, sobat.

Jadi, sekarang kita tahu ya, DM bukan hanya penyakit orang tua saja dan jangan senang dulu bila buah hati terlihat lucu dan gemas karena gemuk, karena justru panjang dampak dan risikonya bagi buah hati kita.

Salam sehat.

Referensi:

  1. International Diabetes Federation. IDF atlas. 10th ed. Brussels: International Diabetes Federation; 2021.
  2. Jospe N, Weber DR. Diabetes mellitus. In: Kliegman RM, Geme JW, Blum NJ, Shah SS, Tasker RC, Wilson KM, editors. Nelson textbook of pediatrics. Philadelphia: El Sevier Inc; 2020. p.3020-1.
  3. Perkumpulan Endokrinologi Indonesia. Pedoman pengelolaan dan pencegahan diabetes melitus tipe 2 di Indonesia. PERKENI; 2021.
  4. Pulungan AB, Fadiana G, Annisa D. Type 1 diabetes mellitus in children: experience in Indonesia. Clin Pediatr Endocrinol. 2021;30(1):11-18.
  5. Pulungan AB, Afifa IT, Annisa D. Type 2 diabetes mellitus in children and adolescent: an Indonesian perspective. Ann Pediatr Endocrinol Metab. 2018 Sep;23(3):119-125.
  6. Verge CF, Howard NJ, Irwig L, Simpson JM, Mackerras D, Silink M. Environmental factors in childhood IDDM. A population-based, case-control study. Diabetes Care. 1994 Dec;17(12):1381-9.
  7. TODAY Study Group. Longitudinal Changes in Cardiac Structure and Function From Adolescence to Young Adulthood in Participants With Type 2 Diabetes Mellitus: The TODAY Follow-Up Study. Circ Heart Fail. 2020 Jun;13(6):e006685.
  8. Unit Kerja Koordinasi Endokrinologi IDAI. Panduan praktik klinis Ikatan Dokter Anak Indonesia: Diagnosis dan tata laksana diabetes melitus tipe-1 pada anak dan remaja. IDAI; 2017.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Scroll to Top