Penyakit Ginjal akibat Diabetes

Penyakit Ginjal akibat Diabetes

oleh dr Dimas Priantono

diambil dari apollosugar

Saat ini, penyakit diabetes melitus sudah tidak asing lagi termasuk dengan berbagai komplikasinya seperti katarak, penyakit jantung koroner, penyakit ginjal, maupun kelainan kaki diabetes. Diperkirakan, pada tahun 2045 jumlah penderita diabetes di Asia Tenggara, termasuk Indonesia, akan bertambah hingga 84% dibandingkan tahun 2017. Di negara-negara maju, diabetes merupakan penyebab utama penyakit ginjal kronik yang memerlukan cuci darah (hemodialisis). Faktanya, masalah komplikasi pada ginjal menjadi begitu ditakuti oleh masyarakat karena dapat berujung pada kondisi hemodialisis atau cuci darah.

Komplikasi ginjal pada diabetes sebenarnya mulai terjadi sejak awal perjalanan penyakit. Akan tetapi, pemeriksaan laboratorium yang ada saat ini baru mampu mendeteksi kelainan ginjal setelah seseorang mengalami diabetes selama 5-10 tahun. Pemeriksaan yang paling sederhana untuk mendeteksi penyakit ginjal diabetik adalah pemeriksaan urinalisis atau air seni. Pemeriksaan ini bertujuan mendeteksi adanya protein di dalam air seni (urin). Seharusnya, pada kondisi normal tidak ditemukan protein dalam urin. Apabila urin positif terhadap protein, maka telah terjadi kebocoran di ginjal yang menyebabkan protein dapat lolos ke urin. Pemeriksaan ini penting, mengingat selama ini masyarakat umum menganggap bahwa fungsi ginjal hanya dilihat dari pemeriksaan darah yaitu ureum dan kreatinin.

Pemeriksaan lain yang lebih peka untuk mengetahui kelainan ginjal akibat diabetes adalah pemeriksaan mikroalbumin urin. Pemeriksaan ini dapat mendeteksi kadar protein albumin di urin dengan jumlah yang lebih sedikit dibandingkan pada pemeriksaan urinalisis biasa. Dengan pemeriksaan ini, diharapkan para penderita diabetes mampu mendeteksi dini kelainan ginjal yang terjadi dan melakukan pencegahan.

Bagaimana dengan pemeriksaan ureum dan kreatinin darah? Kedua pemeriksaan ini penting, namun seringkali kurang menggambarkan fungsi ginjal yang seharusnya. Nilai kreatinin serum pada pasien usia 20 tahun dan 80 tahun dapat sama, namun menunjukkan fungsi ginjal yang berbeda. Dianjurkan pada para dokter yang menangani pasien diabetes untuk menilai fungsi ginjal dengan menggunakan perhitungan eGFR, yang kadang dapat ditemukan di bagian bawah hasil laboratorium.

Sebagai bagian dari penanganan diabetes yang paripurna, para diabetesi juga dianjurkan memeriksakan mata secara rutin. Hal ini berkaitan dengan perjalanan kerusakan mata dan ginjal yang umumnya berjalan seiring. Kerusakan pembuluh darah kecil pada diabetes dapat terjadi pada mata, ginjal, saraf secara bersamaan. Oleh karena itu, apabila di mata telah terjadi gangguan pembuluh darah, penting juga untuk mencari apakah telah terjadi gangguan pada ginjal.

Apabila seseorang sudah terdiagnosis penyakit ginjal diabetik, progresivitas penyakit ini dapat dihambat dengan menjalankan terapi diabetes dengan optimal. Menerapkan empat pilar tatalaksana diabetes yaitu edukasi, terapi nutrisi medis, latihan jasmani, dan terapi medikamentosa menjadi sangat penting untuk mencegah terjadinya komplikasi ginjal maupun komplikasi lainnya.

Pada diabetesi yang menderita hipertensi atau tekanan darah tinggi, kendali tekanan darah harus optimal untuk mencegah kebocoran protein lebih lanjut. Jangan heran, pada diabetesi yang tidak menderita hipertensi namun oleh dokter diberikan obat antihipertensi seperti kaptopril, ramipril, dan diltiazem, adalah bertujuan untuk mengurangi kehilangan protein lewat ginjal akibat kebocoran tadi.

Sebagai penutup, untuk menjawab keraguan masyarakat, mengkonsumsi obat diabetes secara rutin bukanlah penyebab terjadinya kerusakan ginjal pada diabetes. Seperti telah dijelaskan di atas, kerusakan ginjal terjadi akibat penyakit diabetes yang tidak terkendali. Apabila sudah terjadi komplikasi ginjal akibat diabetes, maka pilihan obat diabetes menjadi lebih terbatas, dan apabila komplikasi ginjal sudah berat namun gula darah cenderung tinggi, maka sangat mungkin untuk dianjurkan menggunakan insulin. Pengendalian gula darah menjadi kata kunci untuk mencegah agar jangan sampai terjadi komplikasi yang lebih berat.

Sumber:
Comprehensive Clinical Nephrology 2015
Kidney Res Clin Pract 2014
Journal of Renal and Hepatic Disorders 2017
Kidney International Supplements 2013

 

0 Comments

©2018 Sobat Diabet. Web Development by POCIX

Forgot your details?