Mengapa Penyandang Diabetes Rentan Mengalami COVID-19?

Mengapa Penyandang Diabetes Rentan Mengalami COVID-19?

Diabetes merupakan penyakit penyerta yang sering ditemui pada COVID-19. Adanya diabetes dapat meningkatkan risiko kematian 3,2 kali lebih tinggi.

 


Pandemi coronavirus infectious disease 2019 (COVID-19) masih terus berlangsung. Hingga April 2020 ini, tidak kurang dari 2,5 juta penduduk dunia mengalami COVID-19 dengan angka kematian sekitar 6,8%. Di Indonesia sendiri, sudah lebih dari 7000 kasus COVID-19 yang telah dilaporkan oleh Kementerian Kesehatan RI. Namun, angka kematian tampaknya lebih tinggi dari data global, yakni 8,6%.

Laporan dari berbagai negara mengungkapkan, kasus fatal COVID-19 umumnya menyasar mereka yang berusia lanjut atau telah memiliki penyakit penyerta sebelumnya. Penyakit penyerta tersebut, antara lain diabetes melitus, hipertensi, penyakit jantung, penyakit paru kronik, atau gangguan fungsi ginjal. Berdasarkan 355 laporan kasus meninggal di Italia, diketahui bahwa rata-rata telah memiliki 2-3 penyakit kronik sebelumnya. Hanya 3 orang yang tanpa riwayat penyakit mendasari.

Dari gelintir penyakit yang disebutkan di atas, diabetes melitus tipe 2 termasuk yang sering ditemui pada COVID-19. Data ini perlu diwaspadai, mengingat bahwa International Diabetes Federation (IDF) tahun 2019 menempatkan Indonesia di peringkat ke-7 populasi diabetesi tertinggi di dunia, yaitu sekitar 10,7 juta jiwa. Besarnya jumlah pengidap diabetes tersebut turut mengundang kekhawatiran peningkatan angka kejadian dan kematian akibat virus SARS-CoV-2 ini.

 

Diabetes Memperburuk COVID-19

Diabetes sebenarnya telah diketahui menyebabkan infeksi sulit sembuh. Tak terkecuali COVID-19, laporan mengenai 161 pasien diabetes di Wuhan, Cina, mengungkapkan bahwa virus cenderung bertahan lebih lama di dalam tubuh penyandang diabetes. Virus SARS-CoV-2 masuk ke dalam sel tubuh melalui perantara protein ACE-2 yang berperan sebagai reseptor, yang diibaratkan sebagai ‘pintu masuk’. Molekul ACE-2 ini banyak dijumpai pada sel-sel paru, saluran cerna, jantung, dan ginjal sehingga disitulah biasanya COVID-19 akan menyerang.

Pada penyandang diabetes, protein ACE-2 ini memang sudah lebih banyak jumlahnya dibandingkan orang sehat. Maka, ketika terinfeksi SARS-CoV-2, virus akan lebih mudah masuk ke dalam sel karena ‘pintu masuk’ yang tersedia lebih banyak. Adanya diabetes, terutama yang terjadi sejak lama atau dengan kadar gula tidak terkendali, dapat menyebabkan gangguan imunitas. Fungsi sel daya tahan tubuh limfosit cenderung terganggu apabila diabetes tidak terkontrol. Oleh sebab itu, individu diabetes umumnya lebih lama untuk pulih dari infeksi virus corona.

Pasien COVID-19 dapat mengalami kondisi kritis akibat proses badai sitokin yang terjadi di dalam tubuh. Badai sitokin (cytokine storm) adalah kondisi di mana tubuh menghasilkan molekul-molekul peradangan secara berlebihan dan dapat merusak seluruh organ tubuh. Salah satu molekul yang paling berperan ialah interleukin-6 (IL-6). Menariknya, seorang diabetesi ternyata cenderung memiliki kadar IL-6 yang lebih tinggi dibandingkan populasi sehat. Dengan demikian, pada saat diabetesi terkena COVID-19, maka fase kritis yang dialami akan lebih berat.

 

COVID-19 Memperburuk Diabetes

Hubungan diabetes dengan COVID-19 nyatanya bersifat timbal balik. Protein ‘pintu masuk virus’ ACE-2 juga ditemukan di sel-sel pankreas, organ tubuh penghasil hormon insulin. Maka tak jarang, seorang tanpa riwayat diabetes dapat mengalami kenaikan kadar gula secara signifikan apabila terinfeksi virus corona.

Berkaca dengan pengalaman wabah SARS tahun 2002, seseorang yang terinfeksi virus SARS CoV-1 dapat mengalami peningkatan gula darah hingga 3 tahun setelah dinyatakan sembuh. Diduga, virus SARS CoV-1 mampu merusak sel-sel pankreas dalam waktu yang cukup lama. Walaupun belum ada pengamatan serupa pada COVID-19, para pakar beranggapan bahwa pengalaman SARS tersebut perlu diwaspadai mengingat kedua virus masih satu famili.

 

Yang Harus Diabetesi Lakukan

Melihat begitu eratnya hubungan diabetes dengan COVID-19, maka para diabetesi perlu lebih waspada di masa pandemi ini.
Memang betul, saat ini masyarakat dianjurkan untuk menunda kunjungan rutin tidak urgen ke dokter. Maka dari itu, para diabetesi harus memonitor gula darah secara mandiri di rumah. Membuat catatan gula darah di rumah akan sangat membantu para dokter bila sewaktu-waktu perlu berkonsultasi.

Jangan mudah terpengaruh isu-isu yang belum tentu benar di media sosial. Hindari meminum obat atau herbal yang belum teruji manfaatnya. Sebaliknya, obat-obat diabetes wajib rutin dikonsumsi sesuai anjuran dokter. Bila perlu, stok obat-obat dapat dipersiapkan untuk waktu yang lebih lama.

Himbauan untuk bekerja, belajar, dan beribadah dari rumah bukanlah alasan untuk tidak melakukan olahraga. Ada kecenderungan bila seseorang yang tinggal di rumah akan lebih banyak makan atau ngemil, serta kurang aktivitas fisik, yang dikenal dengan istilah sedentary life-style. Padahal, banyak aktivitas fisik yang dapat dilakukan di rumah, antara lain jalan kaki, jogging, senam, push-up, sit-up, atau menari. Bila alat tersedia, latihan sepeda statis, barbel, atau lompat tali dapat menjadi alternatif.

Namun, apabila kadar gula masih terus tinggi, atau muncul keluhan mual/muntah, demam, tidak bisa makan, maka Sobat Diabet perlu memeriksakan diri ke dokter. Jangan ragu untuk segera berobat bila terjadi masalah-masalah di atas.
Kendali gula darah yang baik adalah kunci bagi diabetesi untuk melewati masa pandemi ini.

 

Penulis: dr. Frans Liwang, SpPD (RS Rujukan COVID-19 Pertamina Jaya)

0 Comments

©2020 Sobat Diabet. Web Development by POCIX

Forgot your details?